Jakarta – Pemerintah memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 guna memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, hingga pemanfaatan teknologi untuk menjaga produktivitas lahan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan), Suwandi, menegaskan sektor pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, pemerintah terus melakukan berbagai upaya agar produksi pertanian tetap berjalan optimal di tengah tantangan perubahan iklim.
BACA JUGA:BMKG: 482 Zona Musim di Indonesia Alami Kemarau Lebih Kering
BACA JUGA:12 Pohon Buah yang Tetap Berbuah Saat Kemarau, Cocok untuk Pekarangan Rumah
BACA JUGA:Banjir Bandang di Musim Kemarau, 300 KK di Lumajang Terendam Setinggi 1,2 Meter
“Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara,” ujar Suwandi dalam Konferensi Pers Pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Aula Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, sektor pertanian menjadi salah satu fokus pembangunan nasional untuk mendukung swasembada pangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan biofuel, hingga hilirisasi pertanian.
Suwandi menjelaskan, Indonesia memasuki musim kemarau tahun ini dengan kesiapan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari optimalisasi lahan, cetak sawah, pembangunan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi iklim tahun ini tidak dapat disamakan dengan fenomena El Nino kuat yang terjadi pada 2015 maupun 2023.
“Karena itu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, bukan menimbulkan kekhawatiran berlebihan,” katanya.



/2025/03/26/1110688078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2439239/original/004031600_1542966203-20181123-Nilai-Tukar-Rupiah-Menguat-Atas-Dolar-Angga2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4301907/original/060567600_1674617670-Potret_Turis_China_Berdatangan__Penyeberangan_di_Bali_Ramai-AFP-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5096380/original/056080400_1737003997-01.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2559129/original/026504800_1546249540-vietnam.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/976571/original/042940100_1441279137-harga-emas-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192690/original/063821500_1595929323-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805341/original/055600100_1713432002-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998689/original/035930000_1779768956-AP26143053613944.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740420/original/059441100_1707701782-fotor-ai-2024021283456.jpg)