Bogor – PT Geo Dipa Energi (Persero) mengandalkan pengembangan teknologi pengeboran untuk mengatasi tantangan eksplorasi panas bumi yang berada di kawasan gunung dan wilayah sulit dijangkau.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan, pengembangan teknologi pengeboran ke lapisan bumi yang lebih dalam dapat meningkatkan kapasitas produksi satu sumur panas bumi hingga dua kali lipat.
BACA JUGA:Bahlil Diangkat Jadi Menko, Geo Dipa Punya Harapan Baru Percepat Transisi Energi
BACA JUGA:Genjot Ekspor, Geo Dipa Usul Reformasi Fiskal EBT
Kalau kita dapat di kedalaman yang lebih dalam dan lebih panas, maka satu sumur itu bisa 25 sampai 30 megawatt,” ujar Yudistian di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Yudistian mengatakan, pengembangan geothermal supercritical menjadi salah satu peluang untuk meningkatkan kapasitas panas bumi karena teknologi tersebut memungkinkan pengeboran menuju sumber panas dengan temperatur lebih tinggi.
Menurut Yudistian, satu sumur panas bumi saat ini dapat menghasilkan sekitar 10–15 MW, sedangkan sumur yang mencapai lapisan lebih dalam dan lebih panas berpotensi menghasilkan 25–30 MW.
Yudistian memperkirakan biaya pengeboran sumur tersebut mencapai US$ 7–10 juta, tetapi kapasitas produksi yang lebih besar dapat meningkatkan keekonomian proyek.
Biaya bikin sumurnya US$ 7 sampai US$ 10 juta, tapi hasilnya bisa dua kali lipat kalau kita mau ke dalam lagi,” katanya.
Yudistian mengatakan Indonesia memiliki salah satu lokasi yang dinilai dekat dengan pengembangan panas bumi supercritical melalui kawasan Dieng, meskipun teknologi pengeboran untuk kondisi tersebut masih dalam tahap pengembangan secara global.
Yudistian menilai panas bumi memiliki posisi strategis dalam transisi energi karena pembangkit panas bumi dapat memasok listrik selama 24 jam dengan kapasitas faktor hingga sekitar 95%.
“Geothermal ini kalau memang kita mau bicara soal transisi energi, dia transisi energi yang mungkin paling bisa diandalkan karena dia bisa 24 jam 7 hari seminggu,” ujar Yudistian.
/2026/03/08/1389890413.jpg)
/2026/06/09/185831808.jpg)
/2020/10/21/1275555835.jpg)
/2025/12/05/291552133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363807/original/095386300_1790920535-1000460529.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364237/original/002877100_1790939125-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_16.43.44.jpeg)







:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324621/original/092329900_1608026628-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192687/original/099233200_1595929321-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)