Jakarta – Institute for Development on Economic and Finance (Indef) menyoroti kesepakatan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan dalam Agreement on Resiprocal Trade (ART) disebut tidak seimbang untuk kedua negara.
Peneliti Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Ahmad Heri Firdaus mengatakan, salah satunya adalah penghapusan tarif untuk mayoritas produk asal AS ke Indonesia. Sementara, produk RI dikenakan tarif 19%.
BACA JUGA:Ekonom INDEF: Danantara Hadir di WEF 2026 Bangun Kepercayaan Investor Global
BACA JUGA:Indef: Pemilahan Kunci Keberlanjutan Program Pengolahan Sampah jadi Energi Listrik di Indonesia
BACA JUGA:Ini Usul INDEF Mengenai Program MBG
Jadi ada ketidakseimbangan. Di mana Indonesia ini menghapus 99% tarif produk dari Amerika Serikat. Jadi ini hampir full liberalisasi. Artinya bebas masuk sini, dari segi tarif bebas. Sementara kita dikenakan tarif 19% untuk banyak produk Indonesia, kata Heri dalam diskusi daring, Jumat (27/2/2026).
Dia mengatakan, tarif 0% bagi produk unggulan RI tak sepenuhnya membawa keuntungan. Dia melihat kalau ini dimanfaatkan AS untuk memajukan industri lokalnya.
Jadi Amerika Serikat ini pinter nih dia. Dia udah tahu barang-barang yang nggak bisa dia bikin, barang-barang yang dia enggak bisa produksi, itu kita diberikan tarif 0%. Artinya apa?
Artinya untuk kepentingan industri di sana, karena kita banyak ekspor produk-produk bahan baku ke sana, tuturnya.
Sementara itu, produk asal Indonesia lainnya dikenakan tarif resiprokal sebesar 19%. Meski dalam kondiai terbaru, Presiden AS Donald Trump menetapkan tarif global sebesar 15%.
Tetapi untuk yang beberapa produk atau untuk yang banyak produk lainnya, kita dikenakan tarif sebesar 19%. Ini menunjukkan dari sisinya Amerika Serikat, resiprokal, tapi tidak simetris, asimetris seperti itu. Jadi ada yang timpang di sini. Tidak adil. Kita di kasih tarif, tapi mereka kesini mau bebas, kata Heri.
/2025/12/08/27044690.jpg)
/2025/12/30/1523668393.jpg)
/2021/08/03/765630265.jpg)
/2019/05/28/2127286568.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5515886/original/006200500_1772202661-Konferensi_pers_di_Brilian_Club-27_Februari_2026.jpeg)

/2017/12/19/2145020248.jpg)
/2025/04/15/1380802889.jpg)
/2021/11/23/867443105.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5308549/original/077636700_1754547877-Gemini_Generated_Image_3o91z63o91z63o91.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881568/original/087545300_1719967244-fotor-ai-2024070373816.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5167102/original/009661500_1742306811-cdacf437-a867-44a0-8f7f-1cd7ef219f5b.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453730/original/031694300_1766490130-Menteri_Perumahan_dan_Kawasan_Permukiman__PKP___Maruarar_Sirait-23_Desember_2025a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495652/original/062697000_1770385761-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_RI_Airlangga_Hartarto-_6_Februari_2026a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4755137/original/049748900_1709027544-Logo_Netflix__Pixabay_.jpg)