Jakarta – Pintu impor rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bukan baru dari Jepang mulai kembali dibuka secara perlahan. Kebutuhan daya angkut dan kenyamanan pengguna harian KRL menjadi salah satu pertimbangan utamanya.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat, satu gerbong KRL Jabodetabek bahkan pernah diisi hingga 480 orang—jauh melampaui batas ideal sebanyak 360 orang untuk ruangan seluas 60 meter persegi. Komisi VI DPR lantas menyepakati opsi impor KRL bekas dari Jepang sembari menunggu kesiapan produksi dalam negeri.
BACA JUGA:Dilema Anker: Lebih Takut Telat Kerja Dibanding Berdesakan di KRL
BACA JUGA:Cerita Perantau Palembang Naik KRL Jabodetabek di Jam Sibuk: Kayak Pepes
BACA JUGA:KRL Makin Padat, Hak Kenyamanan Penumpang Terabaikan
BACA JUGA:Satu Gerbong Diisi 480 Orang, Cerita Anker Desak-desakan di KRL
Kebutuhan ruang dan kenyamanan di dalam KRL Jabodetabek sangat dirasakan oleh Bayu. Pegawai BUMN ini terkadang memilih menyisihkan waktu beberapa jam selepas kerja untuk menghindari jam sibuk (rush hour).
Saya memilih untuk tidak langsung pulang sambil menunggu jam rush hour selesai, biasanya di atas jam 7 malam, kata Bayu saat berbincang dengan dikutip Selasa (29/9/2026).
Dengan tujuan Stasiun Depok, Bayu menyadari tipisnya peluang mendapatkan tempat duduk, di samping prioritas yang tetap harus diberikan kepada penumpang yang lebih membutuhkan.
Penumpang lain, Gia, juga memandang penambahan rangkaian sebagai urgensi utama yang harus segera dipenuhi. Apalagi, kapasitas angkut sempat berkurang setelah tujuh rangkaian kereta buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA ditarik untuk perawatan. Meski tiga rangkaian di antaranya sudah beroperasi kembali, sejumlah kendala teknis masih sering ditemui.
Bagi Gia, status kereta baru atau bekas bukanlah persoalan utama; yang terpenting adalah tambahan kapasitas angkut bagi penumpang harian.
Kenapa setuju impor? Karena secara objektif jelas minim kendala dibanding buatan INKA. Selain itu, dari sisi ergonomis, menurut saya rangkaian bekas Jepang jauh lebih nyaman, ucapnya.
/2023/08/22/326576934.jpg)
/2023/12/26/1234811319.jpg)
/2026/06/06/1608187196.jpg)
/2026/01/15/1042841261.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317191/original/029207300_1755314565-Ilustrasi_utang__keungan.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4127832/original/025254300_1660804798-Halte_Gelora_Bung_Karno_Beroperasi_Kembali-Herman_2.jpg)





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349515/original/027309100_1789531590-Gemini_Generated_Image_eq0tzleq0tzleq0t.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7260736/original/000929900_1780047003-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192686/original/018507100_1595929321-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172726/original/046657700_1594117380-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983416/original/027398600_1730112255-fotor-ai-20241028174236.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5552282/original/064528400_1775805353-Gemini_Generated_Image_ugntt4ugntt4ugnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)