Jakarta – China telah mengurangi rencana kenaikan harga bahan bakar termasuk bensin dan solar. Hal ini sebagai upaya mengurangi beban pengemudi karena biaya energi melonjak di tengah perang Iran.
Mengutip BBC, Selasa (24/3/2026), harga bensin lokal telah melonjak sekitar 20% sejak awal konflik, yang menyebabkan Iran secara efektif menutup salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, Selat Hormuz.
BACA JUGA:BBM Mahal, Warga China Pilih Naik Transportasi Umum
BACA JUGA:400 Lebih WNI Hadiri Salah Idul Fitri di KBRI Beijing
BACA JUGA:Wisatawan Wajib Registrasi Online Saat Menginap Selain di Hotel China
BACA JUGA:Purbaya Cermati Dominasi China di Marketplace Indonesia
BACA JUGA:Laporan AS Sebut Kebebasan Beragama di China Masih Buruk pada 2025
Harga bensin dan solar awalnya ditetapkan naik masing-masing sebesar 2.205 yuan (Rp 5,4 juta, asumsi satu yuan terhadap rupiah 2.452) atau USD 320 dan 2.120 yuan per ton, tetapi setelah penyesuaian pemerintah, kenaikan itu hampir setengahnya menjadi 1.160 yuan dan 1.115 yuan mulai Selasa, 24 Maret 2026.
Lebih dari 300 juta orang di China mengendarai mobil yang memakai bensin dan solar, dengan negara-negara Teluk sebagai sumber utama minyak negara tersebut.
Antrean panjang mobil terbentuk di luar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa kota di China selama akhir pekan, dengan beberapa SPBU harus memasang pemberitahuan mereka kehabisan bahan bakar.
Kenaikan harga terbaru ini merupakan yang kelima dan terbesar di negara itu tahun ini sejauh ini, bahkan setelah penurunan sebelumnya.
Pada Selasa, harga minyak mentah Brent melonjak di atas USD 100 per barel, sehari setelah harga anjlok, seiring munculnya laporan yang saling bertentangan tentang potensi pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Saxo Bank’s Head of Commodity Strategy, Ole Hansen menuturkan, China selama bertahun-tahun telah memanfaatkan harga minyak mentah yang lebih rendah dan melimpahnya pasokan dari negara-negara Teluk untuk membangun salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.
/2025/08/03/1834853401.jpg)
/2026/01/04/2120249703.jpg)
/2023/06/14/114521361.jpg)
/2025/06/25/1464900289.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3960708/original/044464500_1647078413-000_324Y8GX.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)






:strip_icc()/kly-media-production/medias/5537913/original/074911900_1774493188-tercabaikan_BRI.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5537992/original/031274300_1774497679-WhatsApp_Image_2026-03-26_at_08.46.29.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5537790/original/021655300_1774442876-1000271979.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3337092/original/034280800_1609328701-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453610/original/007869400_1766482737-1a2f8c2a-8c24-4682-9524-a65d9f0750e8.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3276076/original/040207400_1603438032-top-view-frame-with-gavel-sounding-block.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5397951/original/070618500_1761822669-1.jpg)