Jakarta – Indonesian Business Council (IBC) mengajak kalangan dunia usaha untuk mengalihkan fokus, dari yang sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi menjadi penciptaan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat. Gagasan utama ini bakal menjadi sorotan penting dalam ajang Indonesia Economic Summit (IES) 2027.
Chairman of the Board of Trustees IBC, M. Arsjad Rasjid, menyampaikan bahwa tolok ukur kemajuan ekonomi tidak boleh berhenti pada angka Produk Domestik Bruto (PDB) semata. Hal yang jauh lebih krusial adalah menjamin hasil pembangunan tersebut dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
BACA JUGA:Arsjad Rasjid Siapkan Social Impact Report di IES 2027
BACA JUGA:Nilai Ekonomi Halal Dunia Capai Rp 46.615 Triliun, Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
BACA JUGA:B57+ Asia Pacific Bisa Jadi Opsi Hubungan Bisnis Lintas Negara di Tengah Gejolak Geopolitik
Yang paling penting bukan hanya pertumbuhan ekonominya, tetapi bagaimana kesejahteraan bisa dirasakan oleh semua orang di Indonesia,” ujar Arsjad saat ditemui usai peluncuran Indonesia Economic Summit 2027 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Arsjad menegaskan, target tersebut menuntut kolaborasi erat antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat sipil. Ketiga pilar ini memegang peran strategis masing-masing dalam mendorong pemerataan ekonomi yang inklusif.
Salah satu langkah konkret yang disoroti Arsjad adalah pembentukan ekosistem bisnis yang merangkul pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ke dalam rantai pasok industri besar. Menurutnya, pemberdayaan UMKM tidak selalu berupa bantuan dana cuma-cuma, melainkan lewat pembukaan akses bisnis langsung, seperti pelibatan dalam penyediaan komponen dan kebutuhan operasional perusahaan.
Yang lebih baik adalah bagaimana dana tersebut digunakan untuk meningkatkan keterampilan dan membangun sumber daya yang ada, serta memberikan peluang usaha kepada pelaku usaha kecil dan menengah, kata Arsjad.
/2025/02/17/71934753.jpg)
/2026/06/04/605781479.jpg)
/2025/10/27/64741537.jpg)
/2022/08/03/1972868173.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371109/original/032008900_1791759069-download__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369421/original/043306800_1791522749-email-attachment_2026_10_09_immanuel-christian_defisit-apbn-rp-319-triliun-menkeu-waspadai-lonjakan-harga-minyak-dan-risiko-global_IMG_7644.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4383851/original/077849900_1680667414-20230405-Sidang-Donald-Trump-AP-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5230612/original/050320000_1748000406-IMG-20250523-WA0007.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149803/original/032801800_1591853666-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3932277/original/005220300_1644714392-13_februari_2022-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)