Jakarta – Ketika harga pupuk dan pestisida kimia terus meningkat, sekelompok petani muda di Desa Makarti Jaya memilih jalan berbeda. Mereka mulai beralih ke sistem pertanian semi organik, sebuah pendekatan yang dinilai mampu menekan biaya produksi sekaligus memulihkan kondisi lahan pertanian.
Selama lebih dari 40 tahun, petani di desa tersebut mengandalkan pola pertanian konvensional. Sejak awal 1980-an, pupuk dan pestisida kimia menjadi solusi utama untuk mendongkrak hasil panen. Namun, penggunaan jangka panjang justru berdampak pada menurunnya kualitas tanah dan meningkatnya biaya usaha tani.
BACA JUGA:6 Cara Menanam Nangka di Pot untuk Pemula, Pakai Tips Ini Jika Ingin Berbuah Lebat dan Manis
BACA JUGA:Kementan Dorong Penggunaan Drone untuk Semprot Pestisida Demi Kejar Swasembada
Dalam satu musim tanam, petani rata-rata menghabiskan hingga tiga karung pupuk kimia dan pestisida sintetis dengan total biaya sekitar Rp5 juta. Kondisi ini membuat keuntungan yang diperoleh petani semakin tipis.
Ketua Kelompok Tani Pomponangi, Irwanto, mengingat masa ketika hasil panen tak lagi sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.
“Dulu kami berpikir pupuk kimia adalah satu-satunya jalan supaya panen bisa banyak. Awalnya memang terlihat hasilnya, tapi lama-kelamaan tanah jadi keras, tanaman cepat menguning, dan hasilnya semakin kecil. Setiap musim kami harus menambah pupuk, sementara biaya makin besar,” ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/1/2026).
Situasi tersebut mendorong lahirnya perubahan melalui program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Hengjaya Mineralindo sejak 2023. Program ini membuka ruang bagi petani, terutama generasi muda, untuk mengembangkan pertanian semi organik dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai pupuk dan pestisida alami.
/2017/04/27/313583694.jpg)
/2025/12/11/1752474654.jpg)
/2019/07/01/1516431989.jpg)
/2025/12/12/590783714.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5481050/original/073182400_1769075263-Gubernur_Jawa_Barat_Dedi_Mulyadi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490979/original/053391900_1770037175-Direktorat_Jenderal_Perkeretaapian__DJKA__Kementerian_Perhubungan_mengecek_kesiapan_LRT_Jabodebek-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5299983/original/084137800_1753857669-Menara_SMBC_Indonesia__1___2_.jpg)
/2019/10/07/1674202269.jpg)
/2025/12/12/1156673284.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5491877/original/086302700_1770109168-WhatsApp_Image_2026-02-03_at_11.55.47__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2833304/original/055774200_1561020095-20190619-BI-Tahan-Suku-Bunga-Acuan-6-Persen6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5285271/original/007266900_1752663315-20250716-Inflasi-ANG_8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490995/original/001390300_1770039523-IMG_0952.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1360914/original/098618500_1475232909-20160930--Bea-Cukai-Rilis-Temuan-Rokok-Ilegal-Jakarta--Faizal-Fanani-08.jpg)