Jakarta – Menteri Perdagangan, Budi Santoso masih memantau peredaran baju bekas impor alias thrifting. Pasalnya, masih banyak masyarakat yang mencari pakaian bekas impor ilegal tersebut.
Budi menyampaikan, proses pengawasan terus dilakukan. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai juga telah sering menindak impor balpres baju bekas ilegal.
BACA JUGA:Peritel Curhat ke Menko Airlangga: Barang Impor Tersendat Masuk ke Mal, Kenapa?
BACA JUGA:Selat Hormuz Ditutup Imbas Perang, Mendag Putar Otak Cari Negara Lain Tujuan Ekspor Baru
BACA JUGA:Waspada Lonjakan Harga Bahan Baku Impor, Mendag Panggil Pengusaha Besok
Ya kan bertahap ya, jadi kan pada prinsipnya memang baju bekas impor kan dilarang, tapi kan bertahap. Kalau kita lihat juga di teman-teman Bea Cukai kan juga terus melakukan pemeriksaan, kata Budi, di Kantor Kemendag, Jakarta, dikutip Jumat (6/3/2026).
Dia memastikan tim Kemendag juga ikut melakukan pengawasan. Namun, prosesnya dilakukan setelah balpres itu masuk ke Indonesia. Kemudian, mengamati di pasaran.
Kita terus mengawasi barang-barang ilegal di post-border. Kalau yang bukan di post-border atau di border itu kan bukan kementerian kami, ucap Budi.
Seperti diketahui, impor baju bekas ilegal telah lama dilarang. Namun, peredarannya masih terus diburu oleh masyarakat. Alasan murah dan barang bermerek mendorong penjualannya masih terus eksis.
Harga Baju Thrifting Jauh Lebih Murah
Sebelumnya, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menegaskan bahwa impor pakaian bekas ilegal atau thrifting sangat merugikan pasar dalam negeri dan memukul industri tekstil.
Pasalnya, pakaian bekas impor dijual dengan harga jauh lebih murah, bahkan bisa 10 hingga hampir 20 kali lebih rendah dibandingkan produk lokal.
Pakaian bekas impor yang masuk ke pasar domestik secara ilegal dengan harga sangat rendah 10,4 sampai dengan 19,9 kali, dan variasi produk yang luas, branded, akan langsung bersaing dengan produk lokal, kata Wamenperin di Jakarta, Rabu, seperti dilansir Antara.
/2022/02/03/357761973.jpg)
/2024/06/27/487465856.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
/2025/12/17/1354237420.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523293/original/084237400_1772800327-1000253576.jpg)
/2024/12/04/736099509.jpg)
/2024/07/04/253076178.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523275/original/084776600_1772799017-IMG_2105.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369941/original/055657900_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1071007/original/007878700_1448870952-20151130-Harga-Emas-Kembali-Buyback-AY4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375575/original/026127600_1538739777-20181005-Emas-Antam-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523296/original/057359200_1772800398-667f9b46-cd0a-49ae-b436-68ffe40f6402.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523299/original/026180000_1772800697-IMG_0755.jpeg)