Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat mengucurkan investasi besar senilai USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 26,71 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 16.700) ke perusahaan logam tanah jarang domestik, USA Rare Earth. Langkah ini menjadi strategi terbaru Washington untuk mengurangi ketergantungan terhadap China yang selama ini mendominasi rantai pasok mineral penting dunia.
Investasi tersebut dilakukan di era pemerintahan Presiden Donald Trump, yang kembali menaruh perhatian besar pada penguatan industri strategis nasional, khususnya sektor mineral kritis yang vital bagi teknologi tinggi dan pertahanan.
BACA JUGA:Ambisi Trump Menguasai Greenland dan Jejak Kepentingan Miliarder Industri Kecantikan Global
BACA JUGA:Hubungan Memanas, China Resmi Larang Ekspor Logam Tanah Jarang ke Jepang
Melalui kesepakatan ini, pemerintah AS akan memperoleh saham di USA Rare Earth, sekaligus menyalurkan pinjaman USD 1,3 miliar atau Rp 21,8 triliun dari Departemen Perdagangan serta pendanaan federal sebesar USD 277 juta atau Rp 4,64 triliun. Dana itu akan digunakan untuk mendukung seluruh rantai produksi, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga pembuatan magnet berbasis logam tanah jarang.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menegaskan, investasi ini bertujuan memperkuat ketahanan rantai pasok nasional.
Langkah ini memastikan pasokan strategis AS tidak lagi bergantung pada negara asing, ujar dia.
USA Rare Earth diketahui menguasai deposit logam tanah jarang berat yang banyak digunakan dalam teknologi pertahanan. Selain pendanaan pemerintah, perusahaan berbasis di Oklahoma tersebut juga berhasil menghimpun USD 1,5 miliar dari investor swasta, dipimpin oleh Inflection Point. Kabar ini langsung disambut positif pasar, dengan saham perusahaan melonjak lebih dari 15%.
Langkah agresif AS ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dengan China. Logam tanah jarang kini menjadi alat tawar-menawar utama dalam negosiasi dagang antara kedua negara, seiring Beijing yang menguasai sekitar 90% kapasitas pengolahan logam tanah jarang global.
/2023/11/14/265599980.jpg)
/2023/02/06/1670990717.jpg)
/2025/09/02/1934936574.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5405147/original/029649300_1762425476-IMG-20251106-WA0004.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2793619/original/013488900_1556718746-Kembang-Api-Buruh4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4967681/original/010007900_1728810787-Depositphotos_650143686_L.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3980727/original/003754900_1648714870-20220331-Laporan-SPT-1.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486677/original/085045300_1769595276-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_16.13.24.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486550/original/072648900_1769590191-Deputi_Gubernur_Bank_Indonesia_terpilih_Thomas_Djiwandono-_28_Januari_2026a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129438/original/034681000_1739288405-BI_10.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484915/original/056960900_1769488796-WhatsApp_Image_2026-01-27_at_10.56.47.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472366/original/098607300_1768363991-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Januari_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4477896/original/072602400_1687478218-Miliarder_atau_Orang_Terkaya_Dunia.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485687/original/071253500_1769524080-1756f35c-ee91-4c96-861f-adbd26f34d5c.jpeg)