Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengatakan ada tiga jenis bentuk pelanggaran yang terjadi pada 25 merek beras fortifikasi bermasalah yang ditemukan melakukan pengawasan dan uji laboratorium secara resmi.
Demikian disampaikan Kepala Bapanas dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, dikutip dari Antara, Sabtu (19/9/2026).
BACA JUGA:25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah, Produksi Disetop dan Stok Ditarik
BACA JUGA:Amran Lantik Perwira TNI-Polri, Diberi Tugas Sikat Mafia Beras
BACA JUGA:Bapanas Bongkar 93% Beras Fortifikasi Tak Sesuai Ketentuan
BACA JUGA:Operasi Pasar Serentak, Bulog Siapkan 110.000 Ton Beras untuk Jaga Harga
Berdasarkan hasil pengawasan dan uji laboratorium yang diampu Bapanas terdapat tiga jenis pelanggaran yang terjadi, antara lain mencakup ketidaksesuaian administrasi, nilai gizi, dan mutu beras, ujar Amran, dikutip dari Antara.
Pelanggaran pertama, Amran menuturkan berupa ketidaksesuaian administrasi antara lain pemalsuan izin edar. Izin edar tersebut sudah tidak berlaku, dan ada ketidaksesuaian informasi antara sertifikat izin edar dengan label yang beredar.
Terdapat pula overclaim atau klaim berlebihan pada label kemasan, ujar dia.
Lalu pelanggaran kedua, yakni ketidaksesuaian nilai gizi merujuk pada hasil laboratorium yang mana seluruh 25 merek beras fortifikasi tersebut tidak mengandung kandungan gizi seperti pada klaim label kemasan. Kandungan vitamin dan mineral tidak sesuai.
Bapanas menggandeng empat laboratorium dalam melakukan uji sampel antara lain Saraswanti Indo Genetech, Eurofins Angler Biochemlab, Laboratorium IPB Terpadu Bogor, dan Balai Riset dan Pengembangan Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian.
Pelanggaran ketiga yakni pelanggaran berupa ketidaksesuaian mutu adalah klaim mutu beras pada produk yang tidak sesuai dengan label. Hasil laboratorium menemukan adanya produsen mengklaim dari beras premium, tetapi ternyata malah kualitas medium atau bahkan submedium.
/2022/02/17/311290864.jpg)
/2025/10/28/268376734.jpg)
/2019/08/15/1659906810.jpg)
/2016/08/26/542351616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336605/original/020275700_1788167610-IMG-20260831-WA0130.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352130/original/058617600_1789730023-Penandatanganan_BA_GL_Tax_Mapping_oleh_Dirut_Pertamina_Kepala_KPP_WPB_Tiga_dan_Ketua_Tim_GL_Tax_Mapping.jpg.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347211/original/045895600_1789284398-WhatsApp_Image_2026-09-13_at_11.16.28.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352822/original/075395700_1789873969-Foto_1__6_.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192688/original/061754900_1595929322-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5303845/original/091163900_1754130203-Gemini_Generated_Image_4fgq6p4fgq6p4fgq.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313336/original/086824700_1785634470-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_33_41_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4811393/original/069497700_1713943503-christian-lue-8Yw6tsB8tnc-unsplash.jpg)