Jakarta – Pemasaran influencer terus mengalami transformasi besar seiring perkembangan teknologi digital. kini influencer telah menjadi bagian penting dari strategi pemasaran banyak merek, baik skala global maupun lokal.
Nilai industri pemasaran influencer pun terus meningkat. Pada 2022, nilainya diperkirakan mencapai USD 16,4 miliar atau Rp 273,74 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.690) dan melonjak menjadi USD 21,1 miliar atau Rp 352,19 triliun pada 2023.
BACA JUGA:Influencer Kritik Candi Borobudur Tak Ramah Lansia, Ibu Hamil, dan Disabilitas, TWC Buka Suara
BACA JUGA:LPSK Siap Lindungi Aktivis dan Influencer yang Diteror Usai Kritik Penanganan Bencana Sumatera
BACA JUGA:OJK Target Aturan Influencer Keuangan Rampung Tengah 2026
Lonjakan ini tak lepas dari perubahan perilaku konsumen, terutama sejak pandemi COVID 19.Saat masyarakat lebih banyak beraktivitas di rumah, media sosial menjadi pusat hiburan sekaligus referensi belanja. Siaran langsung di TikTok, Instagram, hingga YouTube perlahan menggantikan pengalaman belanja konvensional dan menciptakan cara baru bagi konsumen untuk berinteraksi langsung dengan kreator.
Konten Otentik Jadi Kunci Kepercayaan Audiens
Di tengah banjir konten yang serba dipoles, audiens kini justru lebih menyukai konten yang terasa nyata dan relevan. Keaslian menjadi faktor pembeda utama antara kampanye influencer yang sukses dan yang diabaikan.
Fenomena yang dikenal sebagai unfluencing muncul ketika kreator dinilai tidak jujur atau salah merepresentasikan diri maupun merek. Contohnya, influencer yang mengaku hadir di sebuah festival musik terkenal. Mereka mengajak pengikutnya untuk menonton proses persiapan mereka di Reels, padahal kontennya direkayasa dari rumah. Ketika kebohongan terungkap, kepercayaan audiens runtuh dan tingkat interaksi pun merosot tajam.
Kondisi ini membuat merek harus lebih selektif dalam memilih kreator. Konsumen cenderung mempercayai suara yang konsisten, jujur, dan terasa dekat. Karena itu, memberi kebebasan kreatif kepada influencer justru dinilai lebih efektif dibandingkan mengatur konten secara berlebihan.
/2025/09/17/1992289456.jpg)
/2025/10/16/1002072152.jpg)
/2025/05/05/294792947.jpg)
/2025/10/03/437355831.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4269837/original/057928600_1671710596-BKI.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4740420/original/059441100_1707701782-fotor-ai-2024021283456.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461139/original/006092900_1767340396-0a65192f-f679-4726-838e-db64a51518c4.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/755910/original/096650900_1414158471-x8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5381933/original/039227200_1760522313-IMG_7964.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5459920/original/095436100_1767180788-1000194104.jpg)