Jakarta – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap menjadi acuan utama dalam hubungan perdagangan kedua negara.
Penegasan ini disampaikan pemerintah sebagai respons atas perkembangan investigasi perdagangan yang saat ini tengah berlangsung di Amerika Serikat. Proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme administrasi hukum yang berlaku di negara tersebut.
BACA JUGA:Program Diskon Belanja Nasional 2025 Lampaui Target, Transaksi Tembus Rp 122,28 Triliun
BACA JUGA:Ekonomi Indonesia 2025 Tumbuh Solid, Jadi Kekuatan Ekonomi ke-8 Dunia
BACA JUGA:Tepis Isu Batal, Pemerintah Sebut Perundingan Dagang Indonesia-AS Masih Berproses
BACA JUGA:Banjir Bandang Sumatera: Menko Airlangga Salurkan 40 Ton Makanan hingga alat Kesehatan
BACA JUGA:Pemerintah Evaluasi Insentif Otomotif 2026, Bakal Dihapus?
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto mengatakan bahwa pemerintah memahami proses investigasi tersebut sebagai prosedur yang harus dijalankan oleh otoritas di Amerika Serikat.
“Pada prinsipnya ini adalah masalah administrasi hukum di negara mereka, jadi mereka harus mengikuti proses investigasi tersebut. Namun pegangan kita tetap Agreement on Reciprocal Trade (ART), sehingga proses ini kita lalui saja,” ujar Haryo dikutip dari keterangan tertulis Sabtu (14/3/2026).
Haryo menjelaskan bahwa investigasi perdagangan tersebut tidak hanya melibatkan Indonesia, tetapi juga diikuti oleh sejumlah negara lain yang memiliki hubungan dagang dengan Amerika Serikat.
Meski demikian, Indonesia memiliki posisi yang berbeda karena kedua negara telah mencapai kesepakatan melalui Agreement on Reciprocal Trade setelah proses perundingan intensif yang berlangsung lebih dari satu tahun.
/2025/08/18/1393014342.jpg)
/2025/07/21/1137651184.jpg)
/2026/01/15/1286167361.jpg)
/2025/02/12/1446703785.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5147074/original/070001400_1740917690-20250302-Pasar_Benhil-ANG_8.jpg)
/2025/07/23/427260430.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4242618/original/081125200_1669641659-UMP_2023.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530878/original/047888800_1773498450-WhatsApp_Image_2026-03-13_at_17.25.54.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3029352/original/041405400_1579686482-20200122-Penguatan-Rupiah-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530544/original/008599000_1773459278-WhatsApp_Image_2026-03-14_at_09.02.00.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522304/original/046186800_1772753122-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4992086/original/041220700_1730810535-IMG-20241105-WA0119.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3410990/original/017708200_1616657084-businessman-with-online-marketing_53876-94857.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530807/original/048687300_1773481617-Hinako_Village_Taiwan.jpg)