Jakarta – Pemerintah mengerahkan kekuatan tambahan guna menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Sebanyak 300 unit usaha besar bakal diterjunkan langsung untuk memadamkan api secara serentak.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan pihaknya telah memanggil para pengusaha tersebut untuk merencanakan aksi penanganan di kawasan krusial, seperti area sekitar bandara.
BACA JUGA:Antisipasi Titik Api Baru, Pemerintah Bentuk Pos Pantau Karhutla
BACA JUGA:300 Pengusaha Serentak Padamkan Api Kebakaran Hutan, Pakai Anggaran Negara?
BACA JUGA:Bromo Kembali Dibuka, Polisi Perketat Patroli Cegah Kebakaran Hutan
Jadi short term-nya kita padamkan dalam waktu 1-2 minggu kita gerak serentak 300 unit usaha yang besar semua, ungkap Hanif usai rapat koordinasi di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Langkah darurat ini mengacu pada mandat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2026, dengan target area pemadaman seluas 3.000 hektare di Kalsel. Pemadaman parsial yang dilakukan sebelumnya dinilai kurang efektif karena api kerap muncul kembali di titik lain.
Kita telah membagi wilayah dalam zona-zona tertentu, nanti masing-masing perusahaan akan mendapat tugas untuk melakukan penanggulangan pada zona-zona tertentu sampai habis, sampai mati, sampai apinya padam, tegasnya.
Hanif mengakui bahwa memadamkan lahan gambut memiliki tingkat kesulitan tinggi. Oleh sebab itu, strategi kali ini berfokus pada aksi serentak agar api tidak sempat meluas.
Kita kemudian merencanakan ke depan bahwa ini api harus kita keroyok habis. Jadi semua potensi yang muncul api harus dilakukan pemadaman serentak, sehingga api tidak sempat lagi menjalar, tutur Hanif.
/2025/05/26/1577929556.jpg)
/2026/05/03/1268407118.jpg)
/2025/09/29/255160793.jpg)
/2025/11/27/1974583864.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338660/original/000992000_1788337107-kom4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805339/original/033825900_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_1.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354438/original/007347500_1790051775-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7239.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354433/original/099424600_1790051727-email-attachment_2026_09_22_immanuel-christian_lbea-cukai-tindak-impor-ilegal-beras-dan-garam-serta-balpres-senilai-rp27-miliar_IMG_7249.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356221/original/070103300_1790155467-IMG_7277.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356271/original/004497000_1790157143-Image_Article_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9348140/original/088888500_1789384002-SKW_0794.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339447/original/025074400_1788415761-email-attachment_2026_09_03_ariefhakim-at-klyid_bos-bi-singgung-kekuatan-ri-meski-pertumbuhan-ekonomi-kalah-dari-vietnam_1000428806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3967410/original/035781000_1647596767-Singapore_Airlines_B777-300ER.jpeg)