Jakarta – “Pencuci uang” menerima kripto senilai USD 82 miliar atau Rp 1.369 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.700) pada 2025, naik tajam dari USD 10 miliar atau Rp 167,01 triliun pada 2020. Kenaikan penerimaan kripto oleh pelaku kejahatan itu didorong pertumbuhan pesat di antara grup yang memakai bahasa Mandarin, demikian disampaikan peneliti blockchain pada Selasa, 27 Januari 2026.
Mengutip the block, Rabu (28/1/2026), berdasarkan perusahaan riset blockchain yang berbasis di Amerika Serikat (AS) yakni Chainalysis, kategori yang tumbuh paling cepat adalah jaringan pencucian uang berbahasa Mandarin yang muncul selama pandemi COVID-19 dan memproseses hampir USD 40 juta kripto per hari pada 2025.
BACA JUGA:Harga Koin Melania Trump Naik 13% Usai Pemutaran Dokumenter di Gedung Putih
BACA JUGA:Kripto Kian Mainstream, 1 dari 5 Orang Dewasa Korea Selatan Jadi Trader
BACA JUGA:Tether Jadi Pemegang Cadangan Emas Non-Negara Terbesar di Dunia
BACA JUGA:Rusia Larang Bursa Kripto Ini Beroperasi Setelah Beri Dukungan ke Ukraina
BACA JUGA:Harga Kripto Hari Ini Kompak Naik, Bitcoin dan Ethereum Menghijau
Blockchain membuat catatan alamat dompet yang terlibat dalam transaksi kripto, tetapi mengidentifikasi siapa yang berada di balik dompet tersebut sulit.
Namun, Chainalysis menuturkan telah mengidentifikasi hampir 1.800 dompet aktif yang digunakan oleh jaringan pencucian uang berbahasa Mandarin untuk memproses kripto USD 16,1 miliar atau Rp 268,88 triliun pada 2025. Angka-angka tersebut diperkirakan mungkin kurang tepat.
Seorang juru bicara Chainalysis menolak merinci metodologi perusahaan. Namun, Chainalysis mengarahkan ke situs-nya yang menyatakan menghubungkan aktivitas dunia nyata dengan catatan blockchain menggunakan pembelajaran mesin dan pakar forensik.
Sementara itu, perdagangan kripto dilarang di China dan token digital tidak diakui sebagai alat pembayaran atau aset yang sah di sana. Pada 2024, China menuntut 3.032 orang yang terlibat dalam pencucian uang terkait kripto.
/2023/11/14/265599980.jpg)
/2023/02/06/1670990717.jpg)
/2025/09/02/1934936574.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5204248/original/029455300_1745995501-IMG_7186.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2793619/original/013488900_1556718746-Kembang-Api-Buruh4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4967681/original/010007900_1728810787-Depositphotos_650143686_L.jpg)

/2025/12/09/954404319.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486677/original/085045300_1769595276-WhatsApp_Image_2026-01-28_at_16.13.24.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5486550/original/072648900_1769590191-Deputi_Gubernur_Bank_Indonesia_terpilih_Thomas_Djiwandono-_28_Januari_2026a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129438/original/034681000_1739288405-BI_10.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5484915/original/056960900_1769488796-WhatsApp_Image_2026-01-27_at_10.56.47.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472366/original/098607300_1768363991-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Januari_2026.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4477896/original/072602400_1687478218-Miliarder_atau_Orang_Terkaya_Dunia.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5485687/original/071253500_1769524080-1756f35c-ee91-4c96-861f-adbd26f34d5c.jpeg)