Jakarta – Penambang Bitcoin yang berbasis di Singapura, Bitdeer, telah melikuidasi seluruh simpanan bitcoin BTC-nya, meninggalkan strategi penyimpanan standar industri.
Langkah drastis ini terjadi karena penurunan profitabilitas penambangan memaksa perusahaan untuk merestrukturisasi utangnya dan mempercepat peralihan ke Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Demikian mengutip Yahoo Finance, Senin, (23/2/2026).
BACA JUGA:OJK Bakal Atur Ketat Influencer Kripto, Aturan Segera Diteken
BACA JUGA:Missouri Ajukan Bitcoin sebagai Cadangan Negara Bagian ke DPR AS
BACA JUGA:Prediksi Harga Bitcoin Setelah Trump Kerek Tarif Global jadi 15%
Mengapa Penambang Bitcoin ini melepas simpanannya?
Pada 20 Februari, perusahaan penambangan kripto tersebut mengungkapkan mereka memiliki nol Bitcoin, benar-benar menguras cadangannya. Perlu dicatat, ini tidak termasuk deposit pelanggan.
Perusahaan tersebut mengkonfirmasi mereka telah menjual seluruh hasil produksi terbaru mereka sebesar 189,8 Bitcoin, dan mencatat pengurangan bersih yang sangat besar sebesar 943,1 Bitcoin.
Memang, penjualan besar-besaran ini menyoroti krisis yang semakin dalam bagi operator yang terjebak dalam tekanan margin yang parah.
Setelah jeda sementara yang disebabkan oleh badai musim dingin AS yang membuat armada penambangan domestik offline, jaringan Bitcoin mengalami pemulihan berbentuk V yang cepat.
Minggu ini, kesulitan jaringan melonjak 14,7%. Ini adalah penyesuaian kenaikan terbesar sejak Mei 2021 dan menghapus keringanan operasional yang dialami para penambang di awal tahun.
Akibatnya, profitabilitas penambangan, yang diukur dengan hashprice, anjlok hingga di bawah USD 30 per petahash per hari. Metrik penting ini sekarang berada beberapa inci di atas titik terendah sepanjang masa, mendorong biaya produksi lebih tinggi.
/2025/07/29/1849039643.jpg)
/2021/11/18/1612827877.jpg)
/2023/07/27/1172885582.jpg)
/2024/10/03/816049894.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1139961/original/025590100_1455276753-20160212-tembok-penahan-rob-Gholib-4.jpg)


/2025/11/27/1262603760.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3354469/original/046829100_1611133736-20210120-PERTUMBUHAN-UANG-BEREDAR-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4803210/original/041541900_1713259102-20240416-Pelemahan_Mata_Uang_Rupiah-MER_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3211514/original/040779700_1597690121-Foto_Bank_Mandiri.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4132711/original/011923100_1661233218-Penukaran-Uang-Baru-Faizal-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172732/original/048313800_1594117392-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976572/original/043059500_1441279137-harga-emas-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1223093/original/001717500_1462280591-20160503-Pasar--Inflasi-Masih-Terkendali-Hingga-Juni-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)