Jakarta – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya setelah pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah de-eskalasi.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menuturkan, Amerika Serikat akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan timeline yang jelas terkait berakhirnya konflik. Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5% dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto. Kondisi ini selaras dengan tren global di mana ketidakpastian geopolitik meningkatkan volatilitas pasar dan memicu pergeseran ke aset yang lebih aman dalam jangka pendek.
BACA JUGA:Riset: Bitcoin Bisa Lindungi Taiwan dari Risiko Blokade China
BACA JUGA:Bitcoin Terjun ke Level Terendah Pekan Ini, Harga Minyak Jadi Biang Kerok
BACA JUGA:ICEx Resmi Diluncurkan, Perkuat Ekosistem Kripto Indonesia Berstandar Global
Penurunan Bitcoin juga diikuti oleh melemahnya pasar derivatif. Data menunjukkan open interest futures Bitcoin turun dalam waktu singkat, mencerminkan berkurangnya minat dan meningkatnya kehati-hatian trader. Volume perdagangan juga mengalami penurunan, menandakan minimnya dorongan beli yang kuat di tengah ketidakpastian makro.
Setelah sempat bertahan di kisaran USUD 68.000 menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar USD 66.000, seiring reaksi negatif pasar global terhadap eskalasi konflik yang berpotensi berlanjut.
Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun, data intraday menunjukkan reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat. Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan, sementara On-Balance Volume (OBV) mengindikasikan adanya distribusi aset, di mana pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan menambah eksposur.
/2026/01/18/2123596038.jpg)
/2025/11/19/1688602766.jpg)
/2024/06/04/140834998.jpg)
/2026/01/30/508885737.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5236694/original/012313000_1748516061-20250529-Harga_Pangan-ANG_2.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5276247/original/033412300_1751948567-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1071007/original/007878700_1448870952-20151130-Harga-Emas-Kembali-Buyback-AY4.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721215/original/050847100_1705711212-fotor-ai-2024012073921.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5372841/original/076901200_1759800689-perak.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5204454/original/066255600_1746000657-Jepretan_Layar_2025-04-30_pukul_15.07.37.jpg)