Jakarta – Sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa Korea Utara diduga menggunakan jaringan pekerja teknologi informasi (IT) palsu untuk mencuri kripto hingga USD 800 juta atau kurang lebih Rp 13,56 triliun (estimasi kurs Rp 16.960 per dolar AS)
Dana tersebut diperoleh melalui operasi sederhana namun efektif, yakni menempatkan warga negara Korea Utara sebagai pekerja IT jarak jauh di perusahaan-perusahaan Barat.
BACA JUGA:Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Balistik ke Laut Jepang Saat AS–Korea Selatan Gelar Latihan Militer
BACA JUGA:Kim Jong Un Pamer Pistol Baru, Putrinya Ikut Menembak
BACA JUGA:Layanan Kereta Penumpang China–Korea Utara Kembali Beroperasi Setelah Enam Tahun Terhenti
BACA JUGA:Perang Iran Picu Relokasi Aset Militer AS dari Korea Selatan, Kemampuan Hadapi Korea Utara Disorot
Gaji yang mereka terima kemudian dialirkan kembali ke pemerintah di Pyongyang, menurut laporan yang dikutip dari KoreaTimes, dikutip dari Coinmarketcap, Minggu (15/3/2026).
Jaringan operasi ini dilaporkan beroperasi di beberapa negara, termasuk Korea Utara, Vietnam, Laos, dan Spanyol.
Dalam kasus ini, dua entitas telah dikenai sanksi. Pertama adalah Amnokgang Technology Development Company, perusahaan Korea Utara yang bertugas mengelola penempatan pekerja IT di luar negeri serta membantu pengadaan teknologi militer.
Perusahaan kedua adalah Quangvietdnbg International Services Company Limited, perusahaan berbasis di Vietnam yang digunakan untuk mengubah pendapatan pekerja menjadi cryptocurrency.
Selain itu, enam individu juga masuk daftar sanksi. Salah satunya adalah Nguyen Quang Viet, CEO Quangvietdnbg, yang diduga mengonversi sekitar USD 2,5 juta menjadi kripto untuk rezim Korea Utara antara pertengahan 2023 hingga pertengahan 2025.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. www.wmhg.org tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
/2025/08/18/1393014342.jpg)
/2025/07/21/1137651184.jpg)
/2026/01/15/1286167361.jpg)
/2025/02/12/1446703785.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4762235/original/073818300_1709618185-fotor-ai-20240305125544.jpg)
/2025/07/23/427260430.jpg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/4242618/original/081125200_1669641659-UMP_2023.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530878/original/047888800_1773498450-WhatsApp_Image_2026-03-13_at_17.25.54.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3029352/original/041405400_1579686482-20200122-Penguatan-Rupiah-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530544/original/008599000_1773459278-WhatsApp_Image_2026-03-14_at_09.02.00.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530784/original/022558300_1773477796-publikasi_1773470106_69b5019a20dc1.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522304/original/046186800_1772753122-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4992086/original/041220700_1730810535-IMG-20241105-WA0119.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3410990/original/017708200_1616657084-businessman-with-online-marketing_53876-94857.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5530807/original/048687300_1773481617-Hinako_Village_Taiwan.jpg)