Jakarta – Seorang eksekutif senior di Coinbase memperingatkan pembuat undang-undang di Amerika Serikat (AS) berisiko memberikan keuntungan strategis kepada pesaing global jika membatasi imbalan pada stablecoin yang diterbitkan AS. Hal ini seiring dengan langkah China untuk membayar bunga pada uang digital bank sentral atau central bank digital currency (CBDC), yuan digital.
Mengutip the block, Rabu (31/12/20250, dalam sebuah unggahan di X pada Selasa, 30 Desember 2025, Coinbase’s Chief Policy Faryar Shirzad menuturkan, perdebatan tentang apakah stablecoin dolar AS harus diizinkan untuk menawarkan imbal hasil berdasarkan Undang-Undang (UU) Genius telah menjadi lebih mendesak setelah bank sentral China mengumumkan akan mengizinkan bank untuk membayar bunga pada yuan digital.
BACA JUGA:CEO Coinbase Umumkan Penangkapan Oknum di India Terkait Pelanggaran Data Internal
BACA JUGA:Bos Coinbase Sebut Sistem Keuangan Tradisional Rusak, Anak Muda Beralih ke Kripto
BACA JUGA:Standard Chartered Gandeng Coinbase Kembangkan Infrastruktur Kripto Institusional
Bagi mereka yang salah paham tentang apa yang dipertaruhkan, tulis Shirzad yang menunjuk pada langkah China sebagai bukti lanskap persaingan untuk uang digital sedang berkembang.
Tokenisasi adalah masa depan dan Undang-Undang GENIUS adalah langkah visioner oleh Presiden AS dan Kongres untuk memastikan stablecoin dolar AS yang diterbitkan berdasarkan aturan AS akan menjadi instrumen penyelesaian utama pada masa depan,” kata Shirzad.
Ia memperingatkan, jika negosiasi Senat mengenai rancangan undang-undang struktur pasar salah menangani masalah imbalan stablecoin. Hal itu dapat memberikan bantuan besar kepada pesaing global dengan memberikan keunggulan kompetitif yang berarti kepada stablecoin dan CBDC non-AS.
Para pelobi untuk perusahaan-perusahaan mapan akan selalu menentang perubahan,” Shirzad menambahkan.
Sangat penting bagi para negosiator untuk melindungi supremasi dolar AS dan sistem keuangan AS, bukan hanya kepentingan perusahaan mapan,” ia menambahkan.
/2025/09/17/1992289456.jpg)
/2025/04/21/1234404100.jpg)
/2025/05/07/739346899.jpg)
/2022/01/30/1813839003.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5415457/original/023965200_1763371947-1000555238.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5278001/original/040306100_1752051720-20250709-Harga_Beras-AFP_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4776905/original/006239500_1710816232-WhatsApp_Image_2024-03-18_at_12.27.40.jpeg)






:strip_icc()/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465728/original/017167300_1767774733-WhatsApp_Image_2026-01-07_at_10.08.00.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465846/original/090554700_1767777880-DBS_HL_editedd.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4837500/original/089462600_1716195908-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5054979/original/081157700_1734432251-20241217-Kenaikan_Harga_Pangan-ANG_8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3109051/original/089054100_1587537833-20200422-Nasib-Petani-Cabai-di-Tengah-Pandemi-COVID-19-ARBAS-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5176330/original/096132900_1743079834-20250327_172319.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5290047/original/026639200_1753088112-kop2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4269837/original/057928600_1671710596-BKI.jpg)