Baca 10 detik
Guru Besar UGM, Siti Mutiah Setiawati, menyoroti ketimpangan logika internasional terkait isu nuklir Iran dan Israel.
Potensi serangan terhadap Iran dinilai pelanggaran hukum internasional serius jika tuduhan senjata pemusnah massal tidak terbukti.
Konflik berpotensi memperburuk ekonomi domestik Indonesia karena ketergantungan impor minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.
wmhg.org – Guru Besar Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM), Siti Mutiah Setiawati, menyoroti ketimpangan logika internasional terkait isu kepemilikan senjata nuklir yang selama ini dialamatkan kepada Iran.
Siti menilai ada kontradiksi besar ketika Amerika Serikat menyerang Iran atas dasar tuduhan pengembangan senjata pemusnah massal. Sementara di sisi lain, potensi kekuatan nuklir Israel seolah terabaikan.
Oleh sebab itu, menurutnya, serangan terhadap Iran merupakan bentuk pelanggaran hukum internasional yang sangat serius apabila alasan yang digunakan tidak terbukti.
Jadi ini memang perang atau penyerangan terhadap Iran itu satu pelanggaran hukum internasional yang fatal, tegas Siti saat dihubungi wmhg.org, Jumat (13/3/2026).
Terkait potensi keterlibatan kekuatan dunia lainnya, Siti bilang bahwa kecil kemungkinan negara seperti Korea Utara akan membentuk aliansi militer spesial dengan Iran.
Walaupun pemimpin Korea Utara Kim Jong Un secara resmi telah menyatakan sikapnya untuk berdiri bersama Teheran dalam menentukan masa depan kepemimpinan nasional mereka secara mandiri.
Korea Utara menegaskan bahwa mereka sangat menghormati kedaulatan politik bangsa Iran.
Pernyataan dukungan ini juga dibarengi dengan kritik tajam yang diarahkan kepada blok Barat dan sekutunya.
Meskipun kedua negara tersebut sama-sama mendapatkan sanksi dan dikucilkan oleh Amerika Serikat, kata Siti, secara historis keduanya tidak memiliki kedekatan hubungan yang signifikan.
Korea Utara dengan Iran itu ya tidak punya hubungan yang spesial seperti halnya Amerika dengan Israel kan gitu. Jadi ya kemungkinannya bergabung dengan Iran kecil, ucapnya.
Selain dampak geopolitik dan keamanan, Siti memperingatkan dampak ekonomi yang mulai terasa di dalam negeri. Terutama merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ia mencatat bahwa pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi bahkan sebelum eskalasi perang ini memuncak.
Tidak karena perang pun rupiah kita itu sudah terus merosot nilainya terhadap dolar Amerika gitu, ungkapnya.
Namun memang Siti menjelaskan lebih lanjut bahwa perang akan memperparah kondisi ekonomi nasional sebab ketergantungan Indonesia pada impor minyak.
Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik akan memaksa pemerintah mengeluarkan lebih banyak cadangan devisa, yang pada akhirnya menekan stabilitas rupiah.
/2025/09/09/1154512313.jpg)
/2023/08/22/326576934.jpg)
/2024/10/27/1641934318.jpg)
/2026/01/14/1374241906.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4905401/original/072467000_1722346240-IMG_0389__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312207/original/096074800_1754908599-WhatsApp_Image_2025-08-11_at_4.44.48_PM.jpeg)



