Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menerima audiensi lima pengusaha besar Indonesia di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (10/2/2026) malam. Prabowo menyerap berbagai masukan dari para pelaku usaha terkait tantangan dan peluang ekonomi.
Audiensi ini diselenggarakan atas permintaan para pengusaha untuk berdiskusi langsung dengan Prabowo. Lima pengusaha nasional yang hadir yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), dan Sugianto Kusuma atay Aguan (Agung Sedayu Group).
BACA JUGA:Seskab: Jelang Ramadan, Presiden Prabowo Ingin Harga Kebutuhan Pokok di Daerah Bencana Terjangkau
BACA JUGA:Media Israel Soroti Indonesia Jadi Kontributor Pertama Misi Penjaga Perdamaian di Gaza
BACA JUGA:Survei Kinerja Prabowo Hampir 80%, PDIP Singgung Kerja Nyata Tak Selalu Diukur Lewat Angka
BACA JUGA:Prabowo Tak Hanya Hadiri Rapat Perdana Board of Peace Saat Bertolak ke AS, Ini Agenda Lainnya
BACA JUGA:Prabowo Minta Update Pemulihan Bencana Sumatra Disampaikan Berkala ke Publik
Profil Prajogo Pangestu
Bos Barito Pacific Group, Prajogo Pangestu adalah orang terkaya di Indonesia berdasarkan Forbes tahun 2025 dengan kekayaan bersih sebesar USD46,5 miliar atau sekitar Rp752 triliun. Ia bahkan masuk dalam peringkat ke-31 di daftar orang terkaya di dunia.
Pria yang lahir di Bengkayang, Kalimantan Selatan, pada 13 Mei 1944 ini memiliki nama asli Phang Djoen Phen. Ia dari keluarga Hakka, yang merupakan rumpun di Guangdong, Cina.
Ia pindah ke Jakarta pada tahun 1965 dan memulai karir pada lima tahun kemudian, saat ia bergabung dengan perusahaan kayu milik Burhan Uray, Djajanti Group. Pada tahun 1976, ia diangkat sebagai General Manager PT Nusantara.
Namun, pada tahun 1977, ia memutuskan untuk keluar dan membangun bisnisnya sendiri, dengan mendirikan Barito Pacific Timber yang kemudian menjadi perusahaan kayu terbesar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 1993.
Pada tahun 2007, nama perusahaan ini diubah menjadi Barito Pacific untuk mencerminkan diversifikasi bisnisnya yang meluas ke sektor petrokimia, energi, dan sumber daya alam lainnya. Tahun yang sama, perusahaannya mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia Chandra Asri.
Empat tahun kemudian, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Bahkan, mereka menjalin kerja sama strategis dengan produsen ban Prancis Michelin pada tahun 2015 untuk mendirikan pabrik karet sintetis di Indonesia.
Tidak berhenti di sana, ia mengembangkan sayapnya ke sektor energi terbarukan melalui Barito Renewables Energy, yang mengendalikan Star Energy, salah satu perusahaan panas bumi terbesar di dunia.
Hingga pada tahun 2022, melalui Green Era, perusahaan swasta yang berbasis di Singapura dan dikendalikan oleh Prajogo. Di sana, keluarganya membeli 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand senilai USD440 juta, membuat keluarganya memiliki kendali penuh atas Star Energy. Tahun depannya, dua perusahaan batu bara yang dimilikinya, yakni Petrindo Jaya Kreasi, dan Barito Renewables Energy resmi meluncur ke publik.
/2025/12/04/1281030887.jpg)
/2025/10/29/865650798.jpg)
/2025/12/08/659294977.jpg)
/2024/09/05/1607807087.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129184/original/069151700_1739277125-20250211-Menteri_ATR_BPN-ANG_6.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/2835792/original/038785100_1561357842-FOTO_0001.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5182572/original/043086700_1744095807-20250408-ASN_Pemprov_DK_Jakarta-HER_9.jpg)
:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/4898437/original/015266300_1721643866-965ec85f-ffdc-4ba4-83ff-1fa9c30e62eb.jpg)




