Jakarta – Kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor sumber daya alam (SDA) menunjukkan peran penting sektor pertambangan dalam menopang penerimaan negara pada Triwulan I 2026.
Kementerian Keuangan mencatat, realisasi PNBP SDA mencapai Rp 53,6 triliun atau sekitar 20,5 persen dari target APBN. Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar berasal dari SDA nonmigas sebesar Rp 35,1 triliun atau 24,4 persen dari target, yang mencatatkan pertumbuhan positif.
BACA JUGA:Korlantas Evaluasi PNBP 2025, Perkuat Polantas Menyapa dan Digitalisasi Layanan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Lalu menjelaskan, kinerja positif tersebut terutama didorong oleh sektor pertambangan mineral (minerba) seiring kenaikan harga komoditas global. PNBP SDA nonmigas tumbuh sekitar 7,1 persen secara tahunan, terutama disumbang sektor minerba karena kenaikan harga komoditas.
PNBP SDA nonmigas mencatatkan pertumbuhan yang positif. Peningkatan ini ditopang oleh peningkatan harga komoditas mineral antara lain emas, tembaga dan nikel, ujar Purbaya dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).
Ia merinci, sepanjang periode Januari–Maret 2026, harga sejumlah komoditas mineral mengalami kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Harga emas melonjak sekitar 73 persen, sementara tembaga naik 40 persen, dan nikel meningkat sekitar 9 persen.
Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada peningkatan penerimaan negara dari sektor pertambangan, baik melalui royalti, iuran produksi, maupun skema penerimaan lainnya.
Menurut Purbaya, tren ini mencerminkan perbaikan aktivitas sektor riil, khususnya pertambangan, yang kembali ekspansif di tengah dinamika global. “Ini menunjukkan sektor pertambangan memberikan kontribusi nyata terhadap penerimaan negara, dan menjadi penopang penting fiskal,” jelasnya.
Selain faktor harga, peningkatan volume layanan dan penguatan pengawasan juga turut mendukung kinerja PNBP dari sektor terkait. Ke depan, pemerintah melihat potensi sektor tambang masih cukup kuat, terutama dengan adanya ketidakpastian global yang justru mendorong kenaikan harga komoditas mineral.

/2025/12/08/659294977.jpg)
/2026/01/18/2123596038.jpg)
/2025/05/20/52895388.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5461301/original/013023100_1767362851-1.jpeg)
/2024/03/03/1059739962.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5545331/original/046204200_1775182115-Pesawat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5546918/original/056754100_1775386026-IMG-20260405-WA0013.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2806774/original/052762500_1557974780-20190516-Tarif-Batas-Atas-Tiket-Pesawat-Turun-FANANI-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5547987/original/012195700_1775482007-IMG_3262.jpeg)