Jakarta – Koordinator sekaligus Ketua Umum Aliansi Perjuangan Pengemudi Nusantara (APPN), Vallery Gabrielia Mahodim buka suara terkait pembatasan operasional truk selama 17 hari penuh pada periode Lebaran 2026.
Dia berharap pemerintah mempertimbangkan dampak sosial ekonomi bagi para sopir sebelum memberlakukan pelarangan operasional pada momen Lebaran.
BACA JUGA:Menata Ulang Ruang Keluarga agar Silaturahmi Lebih Nyaman Saat Lebaran
BACA JUGA:Telkom Siagakan 13.700 Teknisi untuk Antisipasi Lonjakan Trafik Lebaran 2026
BACA JUGA:Trafik Data Diprediksi Melonjak 9,2 Persen, Telkom Siagakan 13.700 Teknisi Jelang Lebaran
Menurut Vallery, kebijakan pembatasan tersebut berimplikasi langsung terhadap pendapatan harian sopir. Dia mengatakan, tanpa aktivitas angkutan maka pemasukan otomatis berhenti sehingga tekanan ekonomi dirasakan tidak hanya oleh pekerja, tetapi juga keluarganya.
Jika kami yang membawa truk logistik sumbu tiga dilarang beroperasi saat Lebaran nanti, jelas kami akan jadi pengangguran. Keluarga kami kan juga butuh makan, sama seperti masyarakat lainnya. Jadi, tolong pikirkan nasib kami juga, katanya, Jumat (6/3/2026).
Sopir truk lain dari Komunitas Indonesia Bersatu (SKIB), Cahyadi Kurnia khawatir pembatasan operasional kendaraan sumbu tiga pada masa Lebaran akan berdampak pada keberlangsungan nafkah bagi keluarganya. Dia berharap pemerintah menghadirkan solusi yang dapat menjaga keseimbangan antara kelancaran arus mudik dan keberlangsungan ekonomi para pengemudi.
Kami minta solusi, bagaimana nasib keluarga kami saat dilarang narik truk sumbu 3 saat momen Lebaran itu. Sebab, hidup keluarga kami sangat tergantung pada pekerjaan ini, ungkapnya.
Istri para sopir truk yang sehari-harinya membawa truk sumbu 3 atau lebih pun ikut tarkait pelarangan tersebut yang berdampak pada keuangan keluarga. Para istri sopir ini berharap Pemerintah tidak hanya memperhatikan kegembiraan masyarakat yang akan mudik Lebaran saja, tapi juga yang pendapatan para sopir yang terancam turun akibat kebijakan tersebut.
Salah satunya diungkapkan, Maya, istri seorang sopir truk sumbu 3 di sebuah perusahaan air minum. Dia bercerita bahwa satu-satunya penghasilan keluarganya hanya berasal dari gaji suami yang bekerja sebagai sopir truk. Menurutnya, suaminya hanya bisa bekerja sebagai sopir karena memang tidak memiliki keahlian di bidang lain.
Apalagi saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Saya hanya mengandalkan penghasilan suami yang sudah bekerja sebagai sopir truk dari tahun 2010 lalu,” tuturnya.
/2025/12/08/659294977.jpg)
/2018/10/18/528264197.jpg)
/2021/11/16/237331373.jpg)
/2025/12/30/1745362248.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3285859/original/062073000_1604404965-20201103-pembebasan-tarif-bea-masuk-permudah-umkm-ekspor-produk-ke-AS-ANGGA-1.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522139/original/000729400_1772718909-e055bfb0-d53a-42c5-ad40-0243568a7760.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1360907/original/043543700_1475232907-20160930--Bea-Cukai-Rilis-Temuan-Rokok-Ilegal-Jakarta--Faizal-Fanani-01.jpg)
/2025/08/11/374871574.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5521334/original/071803100_1772686674-IMG-20260305-WA0003.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5369426/original/084677000_1759467383-TPC_1_0.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/804918/original/013227900_1422934136-Ilustrasi-Pajak-150203-2-andri.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5501244/original/065983200_1770890840-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026de.jpeg)