Jakarta – PT Berkah Inti Daya mengambil langkah strategis dengan mengembangkan sorgum sebagai komoditas pangan dan energi biomassa setelah sebelumnya mengalami kegagalan dalam memasarkan sorgum sebagai beras. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan sekaligus penguatan energi terbarukan berbasis biomassa.
Direktur Utama PT Berkah Inti Daya, Eri Prabowo, mengatakan perusahaannya sempat menghentikan operasional pabrik beras sorgum yang berlokasi di Blora karena rendahnya minat masyarakat.
BACA JUGA:Tantangan Berat Transisi Energi: Pasokan Biomassa Masih Terkendala Logistik dan Harga
BACA JUGA:Ciptakan Transisi Energi Bersih Indonesia, UEA Masdar Perluas Investasi Panas Bumi
BACA JUGA:PNRE Gandeng Perusahaan Asal China Kembangkan Proyek Energi Bersih di Indonesia
BACA JUGA:Pertamina Siap Dukung Energi Bersih dan Pendidikan di IKN
“Lima tahun lalu kami mengembangkan sorgum menjadi beras, tapi karena memang kurang diterima oleh masyarakat, akhirnya kami tutup,” ujarnya dalam forum diskusi, di CORE Indonesia, Selasa (20/1/2026).
Namun, kegagalan tersebut justru menjadi titik balik bagi perusahaan. Eri menjelaskan PT Berkah Inti Daya bangkit kembali dengan konsep dan strategi baru, yakni memanfaatkan sorgum sebagai bahan biomassa.
Kami bangkit lagi dari bencana ke strategi, yaitu biomass. Offtaker-nya jelas, pembelinya PLN Energi Primer Indonesia, dengan volume besar dan jangka panjang, ujar dia.
Ia menyampaikan, sorgum juga memiliki masa panen yang relatif cepat. Untuk kebutuhan biomassa, tanaman ini bisa dipanen dalam waktu sekitar 70 hari tanpa menunggu bulir.
Sementara untuk menghasilkan bulir sorgum sebagai bahan pangan, waktu panen sekitar 100 hari.
Kami sudah tanam beberapa hektar di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, untuk memasok biomassa ke PLTU Pelabuhan Ratu milik PLN,” ujar Eri.
Dari sisi ekonomi, Eri menyebut sorgum sangat menjanjikan. Produksi beras sorgum bisa mencapai 4 ton per hektare, sedangkan batang kering untuk biomassa mencapai sekitar 30 ton per hektare.
Dengan nilai kalori 3.000 GAR, biomassa sorgum dihargai PLN sekitar Rp 500 ribu per ton. Artinya, satu hektare bisa menghasilkan sekitar Rp 15 juta per panen,” ungkapnya.
/2025/09/17/1992289456.jpg)
/2025/10/03/437355831.jpg)
/2025/09/18/1600673805.jpg)
/2025/04/21/1234404100.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5179834/original/071751100_1743659437-5649e39f-9889-4268-afdc-a18014514f14.jpeg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5383000/original/098357600_1760612392-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5478542/original/081489700_1768904175-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-20_Januari_2026.png)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/2393928/original/011471200_1540635257-OJK.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2890385/original/036007700_1566535931-20190823-Harga-Emas-Antam-Turun-Rp-4.000-per-Gram5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5386099/original/078137900_1760954214-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477485/original/096998400_1768827237-Direktur_Utama_InJourney__Maya_Watono-19_Januari_2026b.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4239448/original/020816200_1669364099-WhatsApp_Image_2022-11-24_at_19.44.16.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129181/original/073224100_1739277124-20250211-Menteri_ATR_BPN-ANG_3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4848901/original/076050200_1717138481-IMG20240531104427.jpg)