Jakarta Tingginya angka kecelakaan sepeda motor di Indonesia menggambarkan paradoks yang memprihatinkan. Saat perilaku berkendara berisiko sudah menjadi hal lumrah di jalanan, mengandalkan edukasi saja tak lagi memadai. Pemerintah perlu hadir lewat regulasi yang kuat dan berpihak pada keselamatan publik, bukan sekadar imbauan moral yang mudah diabaikan.
BACA JUGA:Bus Pembawa Jemaah Umrah Kecelakaan di Madinah: 45 Orang Diduga Tewas
BACA JUGA:Truk Rombongan Mahasiswa Pertanian Unhas Terguling, 11 Mahasiswa Luka-Luka
BACA JUGA:Kecelakaan di Jakut Libatkan Mobil Listrik dan Beberapa Kendaraan, Polisi: Pengemudi dalam Pikiran Kosong
Sepanjang 2024, data IRMSS Korlantas Polri mencatat kendaraan roda dua menjadi yang paling banyak terlibat pelanggaran lalu lintas, mencapai 1.541.873 kasus. Lebih dari 150.000 di antaranya berujung pada kecelakaan, dengan korban jiwa mencapai 26.893 orang. Ironisnya, kesadaran mematuhi aturan yang selama ini digencarkan melalui edukasi justru belum mampu menekan angka kecelakaan di lapangan.
Lebih memprihatinkan lagi, anak-anak dan remaja menempati porsi signifikan dari korban, 16,11 persen di antaranya berusia di bawah 17 tahun. Fakta ini menegaskan bahwa kesalahan manusia masih menjadi penyebab utama kecelakaan, dan strategi keselamatan yang hanya berfokus pada edukasi tak lagi cukup.
Diperlukan intervensi yang lebih sistemik melalui regulasi yang memastikan setiap kendaraan, pengendara, dan infrastruktur jalan tunduk pada standar keselamatan yang jelas dan terukur.
Ketua Dewan Pengawas RSA Indonesia, Rio Octaviano, menegaskan bahwa negara dengan jumlah pengendara sepeda motor sebanyak Indonesia tak mungkin hanya mengandalkan edukasi untuk menekan angka kecelakaan.
“Secara global, sepeda motor memang menjadi isu dominan di negara berkembang, termasuk Indonesia yang tren kecelakaannya terus meningkat. Kalau terus menyalahkan faktor manusia, tidak akan ada habisnya. Ini momentum yang tepat untuk mengoptimalkan teknologi sebagai langkah mitigasi,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Rio menggambarkan betapa sulitnya jika pencegahan kecelakaan hanya bertumpu pada edukasi. Dengan jumlah penduduk Indonesia berusia di atas 17 tahun mencapai 195 juta jiwa, melatih semuanya dalam tiga tahun berarti harus menjangkau 5,4 juta orang per bulan — angka yang sulit dibayangkan.
/2025/11/24/926949912.jpg)
/2024/09/16/78355248.jpg)
/2025/11/24/1458310970.jpg)
/2024/11/12/808128652.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5414671/original/066103100_1763344000-IMG_0920.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4514832/original/065030000_1690355151-20230726-Festival-Ekonomi-Sirkular-2023-Faizal-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5502630/original/043008700_1770992150-WhatsApp_Image_2026-02-13_at_21.10.22.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5502576/original/019088700_1770989375-Sunarto-13_Februari_2026a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5493434/original/019263400_1770214265-1000225262.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4375846/original/057251800_1680074711-Warga_mulai_berburu_penukaran_uang_baru-ANGGA_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369940/original/015660100_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3149803/original/032801800_1591853666-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4424747/original/096223300_1683862013-close-up-hands-holding-tablet.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5066207/original/065685300_1735200702-063_2188387322.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4410597/original/021067700_1682846409-jievani-weerasinghe-NHRM1u4GD_A-unsplash.jpg)