Jakarta – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah belum menetapkan kebijakan khusus terkait potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), di tengah dinamika global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Sejauh ini sesuai dengan penjelasan dari perwakilan staf ahli Menteri ESDM bahwa semua hal yang terkait dengan BBM aman,” kata Dudy di Gedung Kementerian Perhubungan, Senin (30/3/2026).
BACA JUGA:Isu Harga Pertamax Naik Jadi Rp 17.850, Pertamina: Belum Ada Pengumuman Resmi
BACA JUGA:Harga BBM Berpotensi Meroket 1 April 2026, Pertamax Dapat Tembus Rp 15 Ribu
BACA JUGA:Hilirisasi Biofuel, Pemerintah Siapkan Pengganti Pertalite dan Pertamax
BACA JUGA:WFH 1 Hari Diumumkan Besok, Hemat Konsumsi BBM Berapa?
Ia menambahkan, pihaknya harus mempercayai dan memastikan hal tersebut, serta tetap menjalankan kegiatan transportasi sebagaimana mestinya. Ia juga menyebut hingga kini belum ada langkah tambahan yang disiapkan pemerintah.
Dudy mengatakan, hingga saat ini belum ada kebijakan khusus yang disiapkan. Menurut dia, jika pihak ESDM maupun Pertamina menyatakan stok BBM aman, kondisi tersebut dapat dianggap aman.
Meski demikian, Kementerian Perhubungan tetap membuka ruang evaluasi apabila dampak kenaikan harga mulai terasa signifikan, terutama terhadap biaya operasional dan tarif transportasi.
Tentunya kita akan melakukan pengkajian maupun evaluasi, apakah masih dengan kondisi sekarang masyarakat masih menghendaki tarif tetap rendah. Tapi kondisi global di mana terjadi hal-hal yang perlu kita antisipasi, jadi kita akan melakukan exercise berbagai kemungkinan,” ia menambahkan.
Meskipun begitu, menurut Dudy, potensi kenaikan harga BBM, termasuk avtur, dinilai dapat berdampak pada tarif penerbangan. Namun, keputusan mengenai penyesuaian Tarif Batas Atas (TBA) masih menunggu kebijakan resmi dari Kementerian ESDM.
/2024/01/10/1175600077.jpg)
/2026/01/14/1753234005.jpg)
/2025/12/29/511986178.jpg)
/2016/10/07/1683647833.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522239/original/005050400_1772744511-Untitled.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5541636/original/081632100_1774874847-3301f0a8-f092-4641-84d6-9914f33c0643.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532293/original/061990200_1628161552-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4156439/original/081310900_1663062668-Emas3.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3337099/original/045821000_1609328706-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-8.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172729/original/052282800_1594117386-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4226120/original/052852800_1668423876-Mark_Cuban_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975040/original/077790600_1648205648-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5383000/original/098357600_1760612392-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)