Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali menarik perhatian dengan mengumumkan rencana penyelidikan perdagangan baru terhadap banyak negara, termasuk China, Meksiko, Uni Eropa, dan lebih dari selusin negara lainnya.
Penyelidikan tersebut dilakukan untuk menggantikan tarif timbal balik yang sebelumnya dinyatakan ilegal oleh Mahkamah Agung AS. Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer, menyatakan penyelidikan kemungkinan akan diperluas ke lebih banyak negara dan dilakukan berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974.
BACA JUGA:Soal Investigasi Dagang AS, Pemerintah: Ikuti Saja
BACA JUGA:Indonesian-American Games 2026 Jadi Ruang Diaspora Unjuk Gigi
BACA JUGA:Goncangan Geopolitik, Batu Bara Tahan Banting
Aturan tersebut memungkinkan AS mengenakan tarif pada barang impor dari negara yang dinilai melakukan praktik perdagangan tidak adil. Tarif Pasal 301 juga dapat menggantikan sebagian tarif timbal balik yang dikenakan pemerintahan Trump terhadap berbagai negara tanpa persetujuan Kongres tahun lalu.
Menanggapi rencana penyelidikan perdagangan terhadap Indonesia oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai langkah tersebut merupakan hal yang lazim dalam hubungan perdagangan internasional.
“Begini saya pikir nggak apa-apa itu investigasi, hal yang biasa. Saya pikir kalau kita sama Amerika barang kita lebih murah dibanding barang Amerika karena tenaga kerja kita lebih murah. Jadi kita mempunyai relative advantage dibanding Amerika. Itu hampir pasti akan terjadi, kita surplus dibanding mereka, itu kira-kira,” kata Purbaya kepada wartawan usai sidang Satgas Debottlenecking, Jumat (13/3/2026).
Ia menambahkan, dampak kebijakan tarif akan bergantung pada perlakuan yang diberikan kepada negara lain. Menurut dia, selama kenaikan tarif yang dikenakan kepada Indonesia sama dengan kenaikan tarif yang diberlakukan terhadap negara-negara lain yang mengekspor ke Amerika Serikat, maka Indonesia tidak akan menghadapi masalah karena secara relatif posisinya tetap sama.
“Tapi kalau kita dikenakan tarif lebih tinggi sehingga kita misalnya dibeda 10% harusnya kita akan lakukan usaha efisiensi yang lain. Tapi harusnya sih prospeknya ke depan nggak terlalu buruk even dengan investigasi dari US Trade,” pungkas Purbaya.
/2025/09/09/1154512313.jpg)
/2023/08/22/326576934.jpg)
/2024/10/27/1641934318.jpg)
/2026/01/14/1374241906.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5525574/original/022620600_1773045548-1000256163.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5386206/original/040754400_1760959734-PT_Central_Finansial_X__CFX_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5507913/original/033474700_1771558036-Prabowo_Trump_Tanda_Tangan.jpg)






:strip_icc()/kly-media-production/medias/2890385/original/036007700_1566535931-20190823-Harga-Emas-Antam-Turun-Rp-4.000-per-Gram5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5528396/original/032251600_1773283873-6eee7a33-b6f1-4584-b4fc-d02e5e477f14.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5529280/original/062761300_1773318836-WhatsApp_Image_2026-03-12_at_10.36.01.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4397366/original/016884800_1681642592-Angkutan_Mudik_Motor_Gratis_2023-TALLO_3.jpg)